Local Phone : 021 8690 6777 | 021 8690 6770
GSM Cell : 0821 1470 6170 | 0816 1740 8891
Whats App : 0821 1470 6170
Email : sales@timbanganindonesia.com
Home   »   Training   »   Article
  • weigh bridge load cell
  • Banner RLC1 kecil
  • Single Point Load Cell
  • Banner s-beam load cell
  • Banner RLC2 kecil
  • Single Point Load Cell
  • Commpresion Load Cell
  • Banner RLC3 kecil
  • Single Point Load Cell
  • Load Cell application
  • Banner RLC4 kecil
  • Torque sensor
  • Banner RLC1
  • Banner RLC2
  • Banner RLC3
  • Banner RLC4
  • Banner Force Gauge
  • Banner Cap Torque Tester
  • Banner Torque Tester
  • Torque Measuring Flange
  • Weighing Indicator
  • Seat Belt Load Cell
  • Indikator Timbangan
  • Digital Indikator
mahasiswa_UGM.jpg

Mahasiswa UGM Ciptakan Timbangan Bersuara


Bagi pedagang yang tidak punya kekurangan fisik, menimbang menggunakan timbangan biasa merupakan hal yang mudah. Namun, bagi orang yang mempunyai kekurangan seperti tuna netra itu merupakan hal yang sulit.

Untuk mempermudah pedagang tuna netra dalam menimbang barang, lima mahasiswa dari Program Studi ELINS Fakultas MIPA UGM menciptakan timbangan digital.

Alat yang diberi nama rancang bangun timbangan suara untuk tuna netra, atau RAMA Shinta ini secara otomatis bisa menghasilkan suara ketika berat barang telah terukur.

Ary Kusuma Ningsih, Arif Abdul Aziz, Laely Nurbaety, Luthfi Yahya, dan Dwitya Bagus Widyantara termotivasi mengembangkan timbangan bersuara untuk memudahkan penyandang tuna netra dalam berwirausaha. Selain itu, juga untuk meminimalisir terjadinya praktik kecurangan saat bertansaksi jual beli.

“Umumnya para tuna netra merasa kesulitan dalam mendapat informasi yang akurat mengenai berat barang saat jual beli, sehingga rawan terjadi penipuan karena keterbatasan mereka,” kata Ary, Senin 11 Agustus 2014.

Timbangan digital ini telah dilengkapi dengan mikrokontroller arduino uno, empat sensor load cell, buzzer, modul suara,dan spiker. Selain itu juga terdapat keypad dengan huruf braille.

“Selain menghasilkan suara, timbangan juga dilengkapi dengan dengan LCD Graphic 16×2, sehingga hasil pengukuran juga akan nampak pada layar,” bebernya.

Ary menyampaikan, sistem mekanik dari timbangan ini berupa meja timbangan yang pada masing-masig kaki meja diletakkan sensor load cell. Meja timbangan ditutup rangka berbentuk balok dengan dimensi 55x40x21 centimenter. Sementara itu, sisi depan timbangan dirancang dengan kemiringan 45 derajat untuk penempatan LCD, keypad serta tombol pilihan mode. Sedangkan speaker ditempatkan di bagian belakang alat.

“Alat ini memakai power dari adaptor untuk bisa beroperasi,” terang Ary.

Lebih lanjut, Ary mengatakan, timbangan yang mereka kembangkan memiliki kapasitas timbang hingga 30 kilogram. Namun, dalam aplikasinya hanya dibatasi untuk mengukur hingga berat 10 kilogram saja.

“Sebenarnya, kemampuan sensornya bisa sampai 30 kg tapi untuk aman dan keakuratannya kita batasi sampai 10 kg saja,” ujarnya.

Rama Shinta memiliki dua mode pengukuran berat. Pertama, untuk mengukur berat benda yang akan ditimbang dengan meletakkan barang di atas meja timbangan. Hasil pengukuran akan tampak pada layar LCD dan menghasilkan suara.

Kedua, untuk mengukur berat benda sesuai dengan berat yang diinginkan pengguna. Untuk mode ini, sebelumnya pengguna perlu mengatur berat beban yang diinginkan dengan memasukkan angka menggunakan keypad.

Apabila berat yang diinginkan telah terpenuhi, maka timbangan akan mengeluarkan bunyi buzzer ‘beep’ panjang. Sementara itu, jika berat yang diinginkan belum tercapai maka akan terdengan bunyi ‘beep’ singkat.

Pengembangan timbangan bersuara ini bukannya tanpa kendala. Awalnya, mereka merasa kesulitan saat menyesuaikan berat timbangan dengan suara yang dikeluarkan.

“Sempat kesusahan membuat program untuk mengkonversikan berat ke suara, tetapi akhirnya bisa dengan modul suara,” kata Arif menambahkan.

Timbangan bersuara yang dikembangkan lima sekawan ini lahir dari Program Kreativitas Mahasiswa Karya Cipta (PKM-KC) 2014. Untuk riset dan pengembangan alat mereka menghabiskan biaya setidaknya Rp10 juta.

Saat ini, Arif dan keempat rekannya belum memproduksi timbangan bersuara dalam jumlah besar. Namun, ke depan tidak tertutup kemungkinan untuk mengembangkan dalam skala massal. Sebab, sudah terdapat sejumlah permintaan dari para penyandang cacat yang berwirausaha berminat terhadap alat ini.

“Misal nantinya dipasarkan satu timbangan suara harganya sekitar Rp3-4 juta. Kalau timbangan barang biasa, harganya antara Rp2-3 juta,” tuturnya.


Terkait : Mahasiswa UGM Ciptakan Timbangan Bersuara