Local Phone : 021 8690 6777 | 021 8690 6770
GSM Cell : 0821 1470 6170 | 0816 1740 8891
Whats App : 0821 1470 6170
Email : sales@timbanganindonesia.com
Home   »   Training   »   Article
  • weigh bridge load cell
  • Banner RLC1 kecil
  • Single Point Load Cell
  • Banner s-beam load cell
  • Banner RLC2 kecil
  • Single Point Load Cell
  • Commpresion Load Cell
  • Banner RLC3 kecil
  • Single Point Load Cell
  • Load Cell application
  • Banner RLC4 kecil
  • Torque sensor
  • Banner RLC1
  • Banner RLC2
  • Banner RLC3
  • Banner RLC4
  • Banner Force Gauge
  • Banner Cap Torque Tester
  • Banner Torque Tester
  • Torque Measuring Flange
  • Weighing Indicator
  • Seat Belt Load Cell
  • Indikator Timbangan
  • Digital Indikator
deteksiindikatordigitalerror04-Arseen.jpg

Cara deteksi indikator digital error


Motor ber indikator digital kayak di Suzuki Satria FU 150 emang keren dan terlihat canggih. Tapi, gimana ya, kalo peranti itu ngadat? Misal, penunjuk kecepatan atau penunjuk kapasitas bensin di tangki ngaco. Wah, pasti bikin bingung, tuh!

 

Wajar, sebab kerja komponennya lebih banyak didukung arus kelistrikan. Tapi tenang. Wira Sentosa pemilik bengkel Workshop Asia Jaya Motor (WAJM) bersedia kasih tahu cara mendeteksinya.

 

Aki

 

Sebagai pemasok arus listrik ke peranti kelistrikan harus bagus. "Cek sebulan sekali. Gunakan voltmeter, tegangan aki harus ideal berkisar 12-12,3 Volt," anjur Wira.

 

Kalo kurang dari itu, tandanya aki tekor dan kudu dicharge ulang dan jangan lupa isi airnya jika kurang dan bersihkan konektornya dari kerak," wanti ahli merangkai komponen elektronik ini.

 

Cek juga alat pemicu aki melemah, misal sepul dan kiprok. "Idealnya, pada kondisi mesin stasioner (langsam), tegangan pengisian minimal 12,5 Volt. Sedang pada 5.000 rpm sekitar 13,5 volt dan di putaran tinggi maksimal 14,5 volt. Lebih dari itu, artinya overcharge.

 

Nah hal itu umumnya disebabkan regulator rectifier/kiprok bermasalah. Itu wajib diganti. Tapi sebaliknya bila voltase pengisian kurang dari 12,5 volt, ada beberapa kemungkinan penyebabnya.

 

"Pertama, soket kabel pengisian dari sepul ke regulator dan terminal aki kotor," tutur Wira. Buat memastikan, coba bersihkan atau pastikan soket-soket tertempel rapat yang terhubung ke kiprok dan terminal aki tersebut.

 

Sensor Spidometer

 

Di tiap motor posisinya berbeda-beda. Contoh di Satria FU150 posisi sensornya di gir depan. Bisa error akibat kotoran yang menumpuk .

 

Karena posisi sensor dekat sama kotoran, jadi harus sering dicek dan dibersihkan. "Bisa gunakan cairan penetran sambil disikat gigi atau kuas kecil," anjur pria bermarkas di Jl. Pondok Gede Raya no.24, Bekasi ini.

 

Pelampung Bensin

 

Ada di dalam tangki bensin dan bisa memicu kacaunya kerja alat penunjuk digital (khusus kapasitas BBM) ."Biasanya cuma kotor atau lilitan sensornya problem. Tapi kalo cuma kotor, ya dibersihkan," jabar Wira.

 

Ingat, melakukannya kudu hati-hati, karena di dalam sensor pelampung ada lilitan sensor yang bisa menyebabkan indikator bensin di spido ngaco bila rusak. Cek apa ada lilitan yang putus atau cuma kotor? Jika kotor, semprot cairan penetran.

 

Kalo ada lilitan putus, bisa ganti pelampung baru, satu set sekitar Rp 100 ribu.

 

Lain-Lain

 

Jika aki sudah disetrum atau diganti baru tapi masih tetap error. Cek sekali lagi sistem kelistrikannya. Misal, semua soket-soket atau urutan kabel di belakang rumah spidometer.


Terkait : Cara deteksi indikator digital error